Sabtu, 13 Desember 2014

RAPOR SD Kurikulum 2013


Aplikasi penilain kurikulum 2013 untuk SD yang dapat didownload gratis telah resmi diluncurkan Kemdikbud.


Direktorat Pembinaan SD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah resmi meluncurkan aplikasi penilaian Kurikulum 2013 (K-13). Aplikasi rapor K-13 SD ini dapat digunakan oleh sekolah untuk melakukan penilaian terhadap siswa. Aplikasi ini adalah aplikasi gratis untuk semua sekolah.

Karena terhubung dengan Data Pokok Pendidikan (dapodik) sekolah, aplikasi resmi rapor K-13 dari Kemdikbud ini hanya bisa dipasang pada komputer yang telah terinstal aplikasi dapodik sekolah. Aplikasi pengolah nilai K-13 SD dapat didownload di laman website resmi Direktorat Pembinaan SD Kemdikbud, aplikasi dapat didownload di sini.

Sebelum dijalankan, aplikasi rapor SD ini harus disinkronkan terlebih dahulu dengan dapodik. Hal ini untuk pengisian data sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) atau guru, rombongan belajar dan siswa. Username dan password default dari aplikasi ini adalah nomor NUPTK dari guru. Setelah berhasil login, guru dapat mengganti password.

Sebagai data awal, aplikasi ini sudah dilengkapi dengan kompentensi dasar dan indikator sebagaimana tercantum pada buku guru K-13. Aplikasi rapor akan mengolah nilai indikator menjadi nilai kompetensi dasar. Aplikasi rapor akan menyeleksi kompetensi dasar yang menonjol positif dan negatif untuk setiap siswa dan mencetak penilaian deskripsi. 

Baca Selengkapnya

Rabu, 03 Desember 2014

PKG

Setiap akhir pekan sehabis selesai jam pelajaran tanpak bapak/ibu guru sedang berkumpul di Pusat Kegiatan Guru (PKG), dengan dibimbing oleh Ibu Kepala Sekolah atau sekali waktu didampingi oleh bapak/ibu pengawas TK/SD. mereka pun giat mendengarkan penjelasan yang diberikan agar mampu mengerjakan dan melaksanakan sesuatu yang berkaitan dengan Penilaian Kinerja Guru (PKG)Seperti hal nya pada kegiatan uji Kompetensi Guru (UKG), Penilaian kinerja guru (PKG) akan dilakukan per individu. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menjalankan kurikulum 2013 dengan harapan untuk peningkatan kualitas guru. Semua akan mendapatkan pembaruan mulai dari kurikulum, penilaiaan kinerja dan juga pengangkatan calon guru.

Penilaian kinerja guru dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional, dengan kualitas layanan profesi yang bermutu. Menemukan secara tepat tentang kegiatan guru di dalam kelas, dan membantu guru untuk meningkatkan pengetahuan dan juga keterampilan. Dengan harapan timbulnya peningkatan kualitas pembelajaran.

Hasil dari Penilaian Kinerja Guru (PKG) dimanfaatkan untuk menyusun profil kinerja guru sebagai input dalam penyusunan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Selain itu, hasil Penilaian Kinerja Guru (PKG) juga digunakan sebagai dasar penetapan perolehan angka kredit guru dalam rangka pengembangan karir guru. 

Sebagaimana Permendiknas 35/2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Berikut kumpulan lengkap peraturan, buku pedoman, dan petunjuk teknis Penilaian 


File Pendukung dan Aplikasi PKG download disini
Baca Selengkapnya

Selasa, 02 Desember 2014

Rendahnya Kualitas SDM dan Memperbaiki Sistem Pendidikan


SUMBER daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam pembangunan negara dan bangsa. SDM berkontribusi pada proses pembangunan ekonomi nasional. Harus diakui kontribusiSDM Indonesia tidak menunjukkan signifikansi selama ini dalam membangun bangsa. Sangat disayangkan, kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah dan beraneka ragam tidak dibarengi banyaknya SDM berkualitas. Masih rendahnya SDM inilah menyebabkan sumber daya alam (SDA) belum mampu mensejahterahkan rakyat dan justru SDA kita banyak dikuasai asing.

Di sisi lain, berdasarkan pengukuran Forum Ekonomi Dunia yang dikeluarkan Selasa (1/10/2013) di Jenewa, Swiss, sebagaimana dikutip rri.co.id, indeks SDM bangsa Indonesia saat ini berada di urutan ke-53 dari 122 negara. Indeks SDM dari Forum Ekonomi Dunia merupakan perangkat pengukuran baru untuk menilai sejauh mana negara mengelola anugerah SDM-nya berdasarkan potensi kekuatan ekonomi jangka panjang pada tenaga kerja mereka.

Rendahnya kualitas SDM Indonesia terkait dengan faktor pendidikan yang tidak sepenuhnya mendukung ke arah kemandirian manusia Indonesia. Secara normatif, sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4 ayat 1 menyebutkan, "Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air."

Namun fakta di lapangan, cita-cita bangsa kita belum terwujud. Lantas, apakah sebenarnya penghambat peningkatan kualitas SDM khususnya pendidikan? Ketidakmampuan sistem pendidikan kita menciptakan SDM berkualitas tinggi disebabkan sistem pendidikan kita yang masih berorientasi pada pengetahuan (aspek kognitif), bukan berdasarkan pengamalan nilai-nilai agama.

Indikator keberhasilan peserta didik hanya diukur pada hasil Ujian Nasional yang terbatas pada beberapa mata pelajaran tertentu seperti matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sementara mata pelajaran yang membutuhkan pengamalan dan mengajarkan nilai-nilai moral tidak mendapat tempat dalam evaluasi belajar dan standar kompetensi serta mutu pendidikan.

Dengan kata lain, sistem pendidikan sekarang mengabaikan aspek pembentukan kepribadian peserta didik sebagaimana tujuan pendidikan, "membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa…" Dampaknya, banyak peserta didik dan anak-anak usia sekolah yang terjerat dalam seks bebas, penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, perilaku kekerasan massal antar pelajar (tawuran) dan berbagai tindakan kriminal lainnya yang bersifat kasuistis seperti pencurian, pemerkosaan, pembunuhan.

Ragam tindak kriminal anak usia sekolah adalah resultante dari sistem pendidikan nasional yang tidak sepadan antara tujuan pendidikan dengan penyelenggaraan proses pendidikan. Upaya membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian dan berakhlak mulia sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional (pasal 2 UU No. 20 Tahun 2003) tidak sesuai dengan realitas. Dengan kata lain, perencanaan pendidikan Indonesia belum menemukan arah yang pasti.

Memperbaiki Sistem Pendidikan
Indonesia sudah memiliki modal besar terhadap kekayaan alam, tetapi kurangnya pengetahuan menyebabkan bangsa Indonesia baru memanfaatkan sedikit kekayaan alam yang dimiliki. Hal tersebut terjadi karena kurangnya SDM terdidik bahkan tidak sedikit hal ini dimanfaatkan negara-negara maju untuk menggali potensi kekayaan alam di Indonesia. Seharusnya hal tersebut menjadi perhatian sangat besar pemerintah agar mementingkan segmen pendidikan bangsa, sehingga dapat menggali kualitas SDM yang masih belum tergali atau mengayomi bibit unggul yang sudah dimiliki agar tidak juga dimanfaatkan negara lain atau dalam hal ini dibiayai untuk kemajuaan negara lain tersebut.

Memperbaiki sistem pendidikan pun menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena melalui sistem pendidikan yang baik tiap individu mendapatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan serta penanaman nilai dan sikap luhur.

Untuk itu, sangat diperlukan peranan berbagai pihak di bidang pendidikan karena pendidikan merupakan salah satu atau bahkan satu-satunya cara untuk bisa memajukan Indonesia sehingga menjadi bangsa yang memiliki budaya baik dan mengakar kepada seluruh masyarakat.

Tidak hanya orang tua dan guru, sudah semestinya pendidikan juga menjadi perhatian utama pemerintah agar semakin banyak terlahir SDM berkualitas yang mampu mengelola SDA negeri ini demi kemajuan bangsa.

Akhirnya, kita tentu sepakat bahwa mengelola SDM berbanding lurus dengan kemajuan bangsa. Kemajuan sebuah bangsa tidak terlepas bagaimana sebuah bangsa mengelola SDM dengan baik sebagai aset bangsa yang dapat membawa kemajuan. Jika kemajuan sebuah bangsa hanya bertopang pada SDA maka suatu saat nanti SDA yang dimiliki akan habis, sementara dengan mengelola SDM secara baik maka bangsa itu akan dapat eksis di dalam percaturan ekonomi global walau mungkin dengan keterbatasan SDA yang dimilikinya. Seperti halnya sebagian negara di Afrika dijajah karena kurangnya SDM terdidik, sebaliknya lihatlah Negara Jepang yang SDA-nya sanga kurang namun SDM-nya tinggi, menjadikannya disegani negara-negara tetangga bahkan dunia. (Oleh: Drs Riduan Siagian SH MH)

Penulis dosen STIE Bisnis Indonesia

sumber





Baca Selengkapnya

21 Cara Meningkatkan Motivasi Anak Didikmu

Secanggih apapun media, buku atau perangkat pembelajaran lainnya tidak akan berguna jika anak didik kita tidak termotivasi.
Motivasi, baik dari luar atau dalam, adalah kunci sukses anak didik pada hampir semua jenjang pendidikannya, dan guru dapat memainkan perannya dalam memfasilitasi dan menumbuhkan motivasi tersebut. memang gampang untuk berbicara daripada dilakukan, memotivasi anak didik tentu akan berbeda-beda dan membutuhkan waktu yang lama.

Inilah 21 langkah untuk meningkatkan motivasi siswa

1. Beri kepercayaan kepada siswa untuk mengendalikan 
beri kepercayaan kepada siswa untuk memilih dan mengkontrol apa yang terjadi di dalam kelas, ini salah satu cara agar mereka termotivasi sekaligus bertanggung jawab. contohnya, izinkan para siswa untuk memilih tugas apa yang akan mereka kerjakan atau masalah mana yang akan dikerjakan dengan tanggung jawab dan kontrol, yang selanjutnya memotivasi mereka untuk berbuat lebih.

2. Jelaskan Tujuan Pembelajaran
siswa akan kesusahan dan frustasi untuk menyelesaikan tugas atau bahkan untuk berperilaku di kelas jika mereka tidak mengerti betul tujuannya. siswa ingin tahu apa yang akan mereka dapatkan agar tetap termotivasi. pada awal semester, jelaskan tujuan, aturan dan sesuatu yang akan mereka dapatkan jadi siswa tidak akan pusing dan memiliki tujuan hasil kedepannya.

3. Ciptakan kondisi yang nyaman.
Sementara siswa perlu memahami bahwa ada konsekuensi tindakan mereka, lebih jauh berilah motivasi siswa dari ancaman dan beri hal positif. Ketika guru menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi siswa, menegaskan kepercayaan mereka terhadap kemampuan siswa daripada meletakkan konsekuensi, siswa jauh lebih mendapatkan dan tetap termotivasi untuk melakukan pekerjaan mereka. Pada akhir pembelajaran, siswa akan memenuhi harapan bahwa orang dewasa di sekitar mereka berkomunikasi, sehingga fokus pada bisa, bukan tidak bisa.

4. Ubah Gaya Kamu
Kelas adalah tempat yang tepat untuk belajar, tapi duduk di meja hari masuk dan keluar hari dapat membuat sekolah mulai tampak agak membosankan bagi sebagian siswa. Untuk memperbarui minat dalam materi pelajaran atau hanya belajar pada umumnya, berikan siswa Anda kesempatan untuk keluar dari kelas. keluar kelas menuju lapangan, membawa speaker, atau bahkan hanya kepala ke perpustakaan untuk beberapa penelitian. Otak mencintai perlu hal hal baru agar tetap fresh dan akhirnya akan lebih termotivasi.

5. Tawarkan pengalaman yang bervariasi
Tidak semua siswa akan merespon pelajaran dengan cara yang sama. Untuk beberapa, hands on pengalaman mungkin yang terbaik. Orang lain mungkin suka membaca buku dengan tenang atau untuk bekerja dalam kelompok. Dalam rangka menjaga semua siswa termotivasi, mencampur pelajaran Anda sehingga siswa dengan preferensi yang berbeda masing-masing membuat waktu terfokus pada hal-hal yang mereka sukai. Melakukan hal ini akan membantu siswa tetap terlibat dan memperhatikan.

6. Ciptakan Persaingan yang positif
Persaingan di kelas tidak selalu hal yang buruk, dan dalam beberapa kasus dapat memotivasi siswa untuk berusaha lebih keras dan bekerja untuk unggul. Bekerja untuk menumbuhkan semangat persaingan di kelas Anda, mungkin melalui pertandingan grup yang terkait dengan materi atau kesempatan lain bagi siswa untuk memamerkan pengetahuan mereka.

7. Beri hadiah.
Semua orang suka mendapatkan penghargaan, dan menawarkan siswa kesempatan untuk mendapatkan mereka adalah sumber motivasi. menonton film, atau bahkan sesuatu yang sederhana seperti stiker di atas kertas dapat membuat siswa bekerja lebih keras dan benar-benar bertujuan untuk mencapai. Pertimbangkan kepribadian dan kebutuhan siswa Anda untuk menentukan imbalan yang sesuai untuk kelas Anda

8. Beri siswa tanggung jawab.
Menetapkan pekerjaan siswa kelas adalah cara yang bagus untuk membangun komunitas dan untuk memberikan siswa rasa motivasi. Kebanyakan siswa akan melihat pekerjaan kelas sebagai suatu kehormatan bukan beban dan akan bekerja keras untuk memastikan bahwa mereka, dan mahasiswa lainnya, adalah harapan pertemuan. Hal ini juga dapat berguna untuk memungkinkan siswa untuk bergiliran memimpin kegiatan atau membantu sehingga masing-masing merasa penting dan dihargai.

9. Biarkan siswa untuk bekerja sama.
Meskipun tidak semua siswa akan memanfaatkan kesempatan untuk bekerja dalam kelompok, banyak orang akan merasa menyenangkan untuk mencoba memecahkan masalah, melakukan percobaan, dan bekerja pada proyek-proyek dengan siswa lain. Interaksi sosial dapat membuat mereka bersemangat tentang hal-hal di dalam kelas dan siswa dapat memotivasi satu sama lain untuk mencapai tujuan. Guru perlu memastikan bahwa kelompok-kelompok yang seimbang dan adil, bagaimanapun, sehingga beberapa siswa tidak melakukan pekerjaan lebih dari yang lain.

10. Berikan pujian.
Tidak ada bentuk lain dari motivasi yang bekerja cukup serta dorongan. Bahkan sebagai orang dewasa kita mendambakan pengakuan dan pujian, dan mahasiswa pada usia berapa pun tidak terkecuali. Guru dapat memberikan siswa motivasi atas keberhasilan , memberikan pujian untuk pekerjaan yang dilakukan dengan baik, dan berbagi pekerjaan teladan.

11. Mendorong refleksi diri.
Kebanyakan anak-anak ingin sukses, mereka hanya perlu bantuan mencari tahu apa yang harus mereka lakukan dalam rangka untuk sampai ke sana. Salah satu cara untuk memotivasi siswa Anda adalah untuk mendapatkan mereka untuk mengambil keras melihat diri mereka sendiri dan menentukan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri. Siswa seringkali jauh lebih termotivasi dengan menciptakan jenis-jenis kritik dari diri mereka sendiri daripada dengan memiliki seorang guru melakukannya untuk mereka, karena membuat mereka merasa bertanggung jawab untuk menciptakan tujuan dan tujuan mereka sendiri.

12. Bersemangatlah.
Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan siswa termotivasi adalah untuk berbagi antusiasme Anda. Bila Anda sangat gembira tentang mengajar, mereka akan jauh lebih bersemangat belajar. Sesederhana itu

13. Ketahui siswamu.
Mengenal siswa Anda adalah lebih dari sekedar menghafal nama mereka. Siswa perlu tahu bahwa guru mereka memiliki minat yang tulus dalam mereka dan peduli tentang mereka dan keberhasilan mereka. Ketika siswa merasa dihargai menciptakan lingkungan belajar yang aman dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih keras, karena mereka ingin mendapatkan pujian dan umpan balik yang baik dari seseorang mereka merasa tahu dan menghormati mereka sebagai individu.

14. Manfaatkan minat siswa.
Mengetahui siswa Anda juga memiliki beberapa manfaat lain, yaitu bahwa hal itu memungkinkan Anda untuk berhubungan materi kelas untuk hal-hal yang siswa tertarik atau telah mengalami. Guru dapat menggunakan kepentingan untuk membuat hal-hal yang lebih menarik dan relatable kepada siswa, agar siswa termotivasi untuk lebih lama

15. Bantu siswa menemukan motivasi intrinsik.
Hal ini dapat menjadi besar untuk membantu siswa mendapatkan motivasi, tapi pada akhir hari mereka harus mampu membangkitkan motivasi mereka sendiri. Membantu siswa menemukan alasan pribadi mereka sendiri untuk melakukan pekerjaan kelas dan bekerja keras, entah karena mereka menemukan bahan yang menarik, ingin pergi ke perguruan tinggi, atau hanya senang belajar, adalah salah satu hadiah yang paling kuat yang dapat Anda berikan kepada mereka.

16. Kelola kecemasan siswa.
Beberapa siswa menemukan prospek tidak melakukan dengan baik sehingga kecemasan-merangsang sehingga menjadi diri-ramalan. Untuk siswa, guru mungkin menemukan bahwa mereka yang paling termotivasi dengan belajar yang berjuang dengan subjek bukanlah akhir dari dunia. Tawarkan dukungan tidak peduli apa hasil akhirnya adalah dan memastikan bahwa siswa tidak merasa begitu kewalahan oleh harapan bahwa mereka hanya menyerah.

17. Buatlah tujuan yang tinggi tetapi dicapai.
Jika Anda tidak mendorong siswa untuk melakukan lebih dari minimal, paling tidak akan berusaha untuk mendorong diri mereka sendiri. Siswa ingin ditantang dan akan bekerja untuk mencapai harapan yang tinggi asalkan mereka percaya tujuan tersebut berada dalam jangkauan mereka, jadi jangan takut untuk mendorong siswa untuk mendapatkan lebih banyak dari mereka

18. Berikan umpan balik peluang dan menawarkan untuk perbaikan.
Siswa yang berjuang dengan pekerjaan kelas kadang-kadang dapat merasa frustrasi dan turun pada diri mereka sendiri, menguras motivasi. Dalam situasi itu penting bahwa guru membantu siswa untuk belajar persis di mana mereka pergi salah dan bagaimana mereka dapat meningkatkan waktu berikutnya. Mencari tahu sebuah metode untuk mendapatkan di mana siswa ingin menjadi juga dapat membantu mereka untuk tetap termotivasi untuk bekerja keras.

19. Melacak kemajuan.
Hal ini dapat sulit bagi siswa untuk melihat seberapa jauh apa yang telah mereka peroleh, terutama dengan mata pelajaran yang sulit bagi mereka. Pelacakan dapat berguna di dalam kelas, tidak hanya untuk guru tetapi juga bagi siswa. Guru dapat menggunakan ini sebagai cara untuk memotivasi siswa, yang memungkinkan mereka untuk melihat secara visual seberapa banyak mereka belajar dan meningkatkan sebagai tahun berlangsung.

20. Buatlah hal-hal menyenangkan.
Tidak semua pekerjaan kelas perlu menjadi permainan atau waktu yang baik, tetapi siswa yang melihat sekolah sebagai tempat di mana mereka bisa bersenang-senang akan lebih termotivasi untuk memperhatikan dan melakukan pekerjaan yang diperlukan dari mereka daripada mereka yang menganggapnya sebagai tugas . Menambahkan kegiatan yang menyenangkan ke hari sekolah dapat membantu siswa yang berjuang untuk tetap terlibat dan membuat kelas menjadi tempat yang jauh lebih ramah bagi semua siswa.

21. Berikan kesempatan untuk sukses.
Siswa, bahkan yang terbaik, bisa menjadi frustrasi dan kehilangan motivasi ketika mereka merasa seperti mereka sedang berjuang atau tidak mendapatkan pengakuan bahwa siswa lain. Pastikan bahwa semua siswa mendapatkan kesempatan untuk bermain untuk kekuatan mereka dan merasa disertakan dan dihargai. Hal ini dapat membuat dunia yang berbeda dalam motivasi mereka.
Baca Selengkapnya